Penyesalan Ayah Bekerja Jauh dari Anak: Catatan & Refleksi Pejuang Perantauan
Dulu, saat saya masih bekerja di kota yang sama dengan rumah, ada satu dosa besar yang sering saya lakukan tanpa sadar. Saya sering duduk di samping anak saya, namun pikiran saya melayang jauh ke tumpukan pekerjaan, deadline, dan masalah teknis kantor.
Kini, keadaan berbalik. Pekerjaan menuntut saya untuk berada di luar kota. Jarak memisahkan saya dengan anak. Dan jujur saja, di tengah sunyinya malam saat jauh dari rumah, rasa bersalah itu menyerang jauh lebih hebat. Dulu saya merasa bersalah karena tidak benar-benar hadir saat bersama, sekarang saya merasa bersalah karena tidak bisa hadir sama sekali.
"Hadir" Tidak Sama dengan "Ada"
Bekerja jauh dari keluarga memang dilematis. Kita bekerja keras demi masa depan anak, demi susu, sekolah, dan kenyamanan mereka. Namun, seringkali kita terjebak dalam pemikiran bahwa "asalkan saya bekerja keras, anak akan mengerti". Padahal, anak-anak tidak butuh masa depan yang mapan jika mereka kehilangan memori indah tentang ayahnya di masa kini.
Saya belajar satu hal pahit: Hadir secara fisik adalah kewajiban, tapi hadir secara emosional adalah kebutuhan.
Dulu, saat di samping anak, saya sering merasa pekerjaan saya adalah "hak" yang harus diprioritaskan. Saya lupa bahwa dalam hubungan keluarga, ada kewajiban-kewajiban yang bersifat sakral. Jika Sampean penasaran mengapa prioritas keluarga sering kali terabaikan dalam hiruk-pikuk pekerjaan, saya pernah mengulasnya dalam tulisan saya tentang pentingnya memahami hak pasangan dan keluarga. Ternyata, bukan hanya istri, anak pun punya "hak" atas waktu dan perhatian kita yang tak bisa digantikan oleh uang.
Jarak yang Mengajarkan Makna
Jauh dari anak memaksa saya untuk melakukan evaluasi total. Pekerjaan memang penting, tapi ia hanyalah alat. Jangan sampai alat tersebut justru menghancurkan tujuan utama kita bekerja: kebahagiaan keluarga.
Bagi Sampean yang saat ini masih memiliki kesempatan untuk berada di samping anak setiap hari, saya punya satu pesan sederhana: Matikan ponsel sejenak. Saat Sampean bersamanya, jadilah ayah yang seutuhnya. Jangan sampai saat Sampean sudah tidak bisa lagi berada di sampingnya karena jarak atau waktu, Sampean baru menyadari bahwa waktu yang Sampean "buang" untuk memikirkan pekerjaan saat di samping anak adalah investasi yang salah.
Menabung Memori, Bukan Hanya Uang
Saya tidak mengatakan untuk berhenti bekerja. Tidak. Tapi bekerjalah dengan prinsip. Jika harus jauh, gunakan teknologi untuk benar-benar "hadir" saat berkomunikasi. Jangan hanya bertanya, "Sudah makan?", tapi tanyalah hal yang membuat mereka merasa didengar.
Untuk diri saya sendiri dan untuk Sampean para pejuang nafkah di luar kota, mari kita berjanji: Kita tidak hanya akan menabung uang untuk masa depan mereka, tapi kita juga akan menabung memori yang akan mereka ceritakan saat mereka dewasa nanti.
"Tidak ada posisi atau jabatan di kantor yang bisa menggantikan peran seorang ayah di mata anaknya. Bekerjalah untuk menabung memori, bukan hanya menabung uang."
Karena pada akhirnya, tidak ada posisi jabatan di kantor yang bisa menggantikan peran kita sebagai sosok ayah di mata mereka.
Posting Komentar untuk "Penyesalan Ayah Bekerja Jauh dari Anak: Catatan & Refleksi Pejuang Perantauan"
Tinggalkan Komentar Anda Disini: